Berawal dari perjalanan panjang dari Yogyakarta dengan jalan yang liku-liku tibalah kami sampai dusun Kroprak, Kelurahan Giri Panggung, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunung Kidul. Dusun yang sangat terpencil dan sangat sulit dalam mendapatkan air. Tetapi masyarakat disana tetap bertahan hidup di tanah kelahiran mereka meskipun alam kurang bersahabat. Tanah yang kering, berstruktur batu dan tanah yang mengandung zat kapur membuat tanaman sulit untuk berkembang biak. Wlo begitu, pertanian dan peternakan menjadi andalan mereka dalam mencari nafkah. Ternak kambing, yang kata mereka memungkinkan untuk dikembangkan dan pertanian polowijo yang masih sangat mengandalkan musim hujan.
Kami tiba disana sore hari kurang lebih pukul 17.45 WIB menjelang magrib. Kami disambut hangat oleh warga sekitar dan menginap di rumah Bapak Suwandi. Setelah menyantap hidangan berbuka puasa dan sholat magrib kami mulai ngobrol santai sambil menikmati ketela rebus yang disajikan dan celoteh miring dari kami menghiasi senyum tawa mereka,hehehe..
Banyak hal yang kami peroleh dalam obrolan singkat tersebut. Salah satunya adalah keadaan desa yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Misalnya : air yang sangat jelas dibutuhkan mereka apalagi saat musim kemarau. Mereka harus menggocek minimal 100 ribu rupiah tiap KK dalam sebulan hanya untuk mendapatkan air mineral. JANGAN anggap enteng uang 100 ribu, karena penghasilan rata-rata mereka sekitar 300 – 500 ribu perbulannya. Belum untuk kebutuhan sehari-hari, sekolah anak mereka, kebutuhan kebun mereka, juga makan tiap hari. Sungguh menggugah hati kami untuk mengulurkan tangan. Saya pribadi sangat iba melihat keadaan alam mereka dan juga sungguh kagum dengan kegigihan mereka yang pantang menyerah.
Tahun 2004, warga dusun koprak mendapat bantuan dari Jerman berupa mesin penyedot air, tetapi gempa jogja tahun 2006 membuat mesin itu tidak dapat bekerja dengan baik. Bantuan lain juga dating dari PM-PM sekitar juga perusahaan swasta berupa bak penampung air tiap rumah, mushola, gereja, dan peralon distribusi air. Tetapi distribusi air yang mereka dapat sekarang adalah nihil entah mengapa. Kecurigaan selalu hantui warga, tetapi mereka tidak mencari tahu akan hal itu dengan alasan terlalu ribet prosedur yang harus dilalui. Pedesaan yang kurang dari pendidikan membuat kami maklum akan hal itu.
Kebutuhan yang mereka harapkan adalah air sebagai kebutuhan sehari-hari (masak-minum dll) juga untuk perairan, agar pertanian mereka berkembang dengan baik meskipun pada musim kemarau, dengan begitu pendapatan mereka meningkat, kesejahteraan bukan hanya jadi impian dan meninggikan pendidikan. Mengangkat derajat warga koprak ke yang lebih baik, itu harapan kami bersama warga.
Langkah yang harus kami lakukan adalah memperbaiki distribusi air dari sumber air yang berjarak + 500 meter. Mulanya penampungan air induk harus dibuat terlebih dahulu di daratan yang lebih tinggi agar mudah untuk disalurkan ke setiap rumah atau perkebunan. Selain menampung dari sumber mata air diharap juga dapat menampung air hujan. Mesin penyedot air yang kuat dan handal dibutuhakan sebagai pendistribusi air dari bawah (sumber mata air) ke atas (penampung air). Peralon sebagai media transportasi.
Artikel ini dibuat untuk menggambarkan keadaan dusun Koprak dengan sesungguhnya tanpa rekayasa. Apakah kita akan berdiam diri melihat saudara kita disana?? Rasa iba pasti ada di hati Anda. Diharap uluran tangan kita untuk mereka. Rasa terimakasih dan ucapan maaf apabila terdapat kesalahan dalam artikel ini.


